SUPERALOR – MEDIA SUARA PEREMPUAN ALOR
SHARE :

Respon PJ Bupati Alor Saat Ditemui SUPER

22
03/2024
Kategori : Uncategorized
Komentar : 0 komentar
Author : admin


Respon PJ Bupati Alor Saat Ditemui SUPER

Meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (KTPA) di Alor, Suara Perempuan Alor (SUPER) lakukan audience dengan PJ Bupati Alor pada Kamis (21/03/2024) di Rumah Jabatan Bupati Alor.

Dorkas Manimaley (anggota SUPER) bersama beberapa anggota SUPER lainnya mendatangi PJ.Bupati Dr. Zet Sony Libing, M.Si untuk mempertanyakan kebijakan daerah mengenai masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Alor.

Menurut Dorkas saat ini kasus kekerasan di Alor semakin meningkat, ditahun 2022 terdapat 70 kasus namun ditahun 2023 meningkat menjadi 157 kasus.

Melihat kondisi ini apa yang harus kita lakukan agar Alor terbebas dari masalah kekerasan? dan bagaimana peran pemerintah dalam masalah ini?

Pertanyaan ini direspon baik oleh Dr. Sony Libing dan menjelaskan bahwa, yang pasti pemerintah tidak menginginkan kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi, karena undang-undang melarang tindakan tersebut.

Karena itu pemerintah juga berkeinginan besar untuk segera membuat peraturan daerah atau peraturan bupati tentang perlindungan terhadap anak dan perempuan.

Sehingga apa yang menjadi cita-cita kita membangun kehidupan masyarakat yang aman dan damai itu terwujud, demikian juga kehidupan keluarga yang harmonis dalam skala yang kecil itu dapat terwujud.

Ia juga mengapresiasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan SUPER, dalam mengadvokasi dan melakukan perlindungan terhadap anak dan perempuan.

Pemerintah sangat mendukung, jika terjadi kasus-kasus kekerasan pada perempuan dan anak akan diproses secara hukum.

Selama ini pemerintah ada berbagai program dan kegiatan berkaitan dengan perlindungan terhadap Perempuan dan anak, ada pembentukan satuan gugus tugas dengan melibatkan kepolisian. Ada juga organisasi perangkat daerah yang dibentuk khusus untuk menangani itu, yaitu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (DP3A).

Ia juga menambahkan ada banyak faktor yang menyebabkan terjadi peningkatan kasus kekerasan, bisa jadi advokasi dan sosialisasi kita yang masih kurang, apalagi perihal minuman keras, banyak kejadian yang istri dapat pukulan dari suami saat suami dalam keadaan mabuk.

Perlunya edukasi pada keluarga dan juga perempuan-perempuan muda agar tidak mudah mendapat rayuan gombal dari laki-laki, karena habis dia rayu terus menghilang, itu termasuk kekerasan psikis.

Kita juga berkolaborasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat agar melalui mimbar-mimbar agama disampaikan, melalui mimbar-mimbar adat-istiadat disampaikan supaya bagaimana perempuan itu dipandang sama dengan laki-laki.

Ia berharap semua masyarakat, komponen-komponen masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh perempuan, tokoh-okoh agama, tokoh-tokoh adat dan berbagai stake holder terkait untuk sama-sama satu visi membangun kehidupan masyarakat yang nyaman dengan cara menjaga agar jangan sampai terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak.

 Menjelaskan kepada semua masyarakat bahwa Perempuan dan laki-laki itu sama, karena itu tidak boleh memandang rendah perempuan apalagi melakukan kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yang melahirkan anak dan anak adalah generasi penerus keluarga maupun bangsa.

 Sulit dibayangkan kalau ada tindakan kekerasan terhadap perempuan yang adalah pembawa keturunan dan laki-laki adalah anak penerus keturunan. (Mariam)*

Berita Lainnya

22
03/2024


Tinggalkan Komentar